Apa Aja Sih Manfaat Blue Economy Bagi Pekerja RI?

Gagasan Ekonomi Biru atau Blue Economy yang selalu diidentifikasikan sebagai pembangunan ramah lingkungan terus didorong oleh Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker). Hal itu lantaran, konsep tersebut dinilai dapat memberikan nilai tambah serta mengoptimalkan sumber daya manusia.

“Konsep Blue Economy harus diarahkan untuk membantu peningkatan produktivitas pekerja dan penciptaan lapangan kerja. Langkah- langkah aksi untuk sosialisasi dan penerapannya harus didukung semua pihak,” ujar Staf Ahli Hubungan Internasional Kemnaker Abdul Wahab Bangkona dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (27/1/2018).

Dalam acara International Conference on Blue Economy for Suistanable, Abdul Wahab mengatakan pada prinsipnya Blue Economy merupakan pengembangan dari prinsip Green Economy yang konteksnya fokus pada produktivitas tinggi dan optimalisasi sumber daya berkelanjutan.

“Dengan ikon optimalisasi dalam Blue Economy ini maka seluruh sumber daya (resource) harus memberikan nilai tambah, memberikan hasil lebih baik. Dalam konteks ketenagakerjaan diharapkan dapat meningkatkan produktivitas pekerja,” kata Abdul.

Abdul mengatakan untuk mendukung konsep Blue Economy harus ada regulasi sistematis yang bisa diterapkan dengan mudah dan standar aturan yang jelas agar seluruh pemangku kepentingan terlibat dengan potensi masing-masing.

“Potensi itu mesti dirawat dengan bekerja sama dengan bidang masing-masing kementerian/lembaga, kampus, dan para ahli serta memberi nilai tambah untuk mendapatkan hasil yang optimal. Ini tidak mudah, kalau tidak dilakukan hari ini,” kata Abdul.

Abdul mengatakan Indonesia merupakan negara kaya raya dengan sumber daya di laut maupun hutan. Banyak bahan baku yang bisa diperoleh dari hasil sumber daya di Indonesia jadi tidak perlu melakukan impor.

Abdul berharap konsepsi dan implementasi gagasan ekonomi biru bisa memberikan manfaat bagi semua pemangku kepentingan yakni institusi pemerintah, dunia usaha, dunia industri, dunia pendidikan, dan pelatihan maupun organisasi masyarakat lainnya yang memiliki tanggung jawab sama untuk membawa bangsa ini menjadi bangsa yang kompeten dan produktif.

“Menjadi yang terbaik adalah penting, tetapi menjadi lebih baik dari sebelumnya itu jauh lebih penting. Terus menerus memperbaiki, berinovasi untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya, itulah hakikat produktivitas,” kata Abdul.

Dalam kesempatan yang sama Initiator Blue Economy Prof. Dr. Gunter Pauli menjelaskan inti pemikiran dan gerakan ekonomi sebenarnya adalah mendorong pemanfaatan sumber daya lokal melalui beragam inovasi agar semaksimal mungkin memberikan nilai tambah bagi peningkatan ekonomi, kualitas hidup manusia, penciptaan lapangan kerja, dan penghematan sumber daya agar dapat lebih lama diperoleh manfaatnya.

“Apapun komoditasnya pasti bisa digali teknologi untuk meningkatkan nilai tambah dan kemanfaatannya, intinya adalah inovasi tiada henti. Gerakan ekonomi yang dirintis lebih dari sekadar ramah lingkungan. Saya berusaha menaikkan standar dari kata sustainabilitas lebih tinggi dari sebelumnya,” kata Gunter.

Dalam konsep Blue Economy, semua sumber daya alam tidak ada yang terbuang, bahkan bahan sisa produksi. Bahan sisa produski bisa dibuat produk baru atau didaur ulang.

“Berbicara tenaga kerja dalam sektor alam, semua orang yang fokus pada sektor alam, mereka tidak ada yang menganggur. Pasti mereka bekerja, entah itu kecil ataupun besar pekerjaannya. Namun yang pasti, mereka tidak ada yang menganggur,” kata Gunter

Sementara Rektor Universitas Trilogi Dr. Aam Bastaman menambahkan konferensi internasional ini merupakan momentum untuk kembali memahami Blue Economy adalah bagian dari tata nilai kehidupan yang harus diimplemantasikan.

“Semangat menerapkan ekonomi biru ini menjadi bagian dari pembangunan nasional Indonesia. Konteks ini bisa dilihat dari misi Universitas Trilogi yang menyelenggarakan pendidikan untuk mengembangkan keteknopreneuran, kemampuan bekerja sama dan kemandirian dalam lingkungan Blue Economy,” katanya.

Acara International Conference on Blue Economy for Suistanable Development hasil kerja sama Ditjen Binalattas Kemnaker dengan Universitas Trilogi Jakarta. Acara ini dihadiri oleh Mantan Menaker Bomer Pasaribu, Hayono Suyono, Sekretaris Ditjen Binalattas Kunjung Masehat, Direktur Bina Produktivitas Ditjen Pembinaan Pelatihan dan Produktivitas (Binalattas) Kemnaker Muhammad Zuhri, dan ratusan peserta dari para pembuat kebijakan, akademisi dan asosiasi profesi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *